”Sesungguhnya di
dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik maka baik pula sekalian anggota tubuh serta
perbuatannya, sebaliknya apabila segumpal daging itu buruk maka
buruk pula sekalian anggota tubuh dan perbuatannya, segumpal
daging itu adalah Qolbu”
Banyak yang menerjemahkan qolbu itu sebagai hati. Tapi setelah saya belajar mengenai sistem kardiovaskular, menurut saya, qolbu lebih cocok dianalogikan sebagai organ jantung. Apabila jantung mengalami kerusakan (misalnya terjadi right to the left shunt) maka darah yang akan dibawa adalah darah yang kotor, sehingga seluruh bagian tubuh pun akan merasakan dampaknya. Dan apabila jantung kita sehat, maka darah yang akan diedarkan ke seluruh bagian tubuh adalah darah yang sehat. Selain itu (untuk memperkuat analogi ini,hehe) ketika merasa sedih, marah, stress dan kecewa, yang akan berubah adalah heart rate kita, sementara hati kita tidak terlalu terpengaruh, setau saya sih gitu.. :)
Banyak yang menerjemahkan qolbu itu sebagai hati. Tapi setelah saya belajar mengenai sistem kardiovaskular, menurut saya, qolbu lebih cocok dianalogikan sebagai organ jantung. Apabila jantung mengalami kerusakan (misalnya terjadi right to the left shunt) maka darah yang akan dibawa adalah darah yang kotor, sehingga seluruh bagian tubuh pun akan merasakan dampaknya. Dan apabila jantung kita sehat, maka darah yang akan diedarkan ke seluruh bagian tubuh adalah darah yang sehat. Selain itu (untuk memperkuat analogi ini,hehe) ketika merasa sedih, marah, stress dan kecewa, yang akan berubah adalah heart rate kita, sementara hati kita tidak terlalu terpengaruh, setau saya sih gitu.. :)
Dari tausyiah yang disampaikan oleh dr.Piprim, Hati dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu hati yang hidup, hati yang mati dan hati yang sakit. Berikut saya akan menceritakan kembali ilmu yang sya dapat dari tausyiah tersebut.
Hati yang hidup adalah hati yang dimiliki oleh orang yang beriman. Sementara hati yang mati adalah hatinya orang-orang kafir. Dan hati yang sakit adalah hati orang-orang munafik..
Lalu tergolong kemanakah hati yang kita miliki??
Didalam Al-Qur'an sendiri Allah lebih banyak menyebutkan tentang hati yang sakit daripada hati yang mati. Artinya apa?? Artinya kita harus lebih waspada terhadap hal-hal yang dapat membuat hati kita menjadi sakit.
Seperti biasanya, untuk mengetahui sesuatu yang patologis, maka kita harus mengetahui dulu hal-hal yang normal. Oleh karena itu, sekiranya sangat penting bagi kita mengetahui ciri-ciri hai yang hidup terlebih dahulu. Apakah ciri hati yang hidup tersebut?? Cirinya antara lain:
- Orang yang hatinya hidup tidak akan pernah bosan-bosannya membaca Al-Qur'an. Kalau boleh dibilang, tilawah al-Qur'an bisa dijadikan indikator turun naiknya keimanan seseorang. Oleh karena itu, tentunya sangat pentig bagi kita untuk menjaga tilawah kita. Untuk membuatnya selalu terjaga, maka kita harus membuat target bacaan al-Qur'an minimal yang harus kita capai dalam sehari. Maka ketika kita sudah membuat target tersebut, mulailah lakukan. Mungkin ketika kita hanya merencanakan target itu sendiri, akan lebih mudah bagi kita untuk melanggar ataupun mencari pembenaran atas diri sendiri kita kita melakukan kesalahan. Oleh karena itu, sistem KSI atau Liqo' bisa dijadikan sistem kontrol agar tilawah kita selalu terjaga
- Orang yang hatinya hidup akan seirng mengingat nama Allah dan bergetar hatinya ketika membaca ayat-ayat Allah SWT. Mengingat Allah tentunya harus kita lakukan setiap saat. Ust Salim A. Fillah pernah berkata bahwa jika kita terbiasa mengingat Allah ketika senang, maka akan mudah bagi kita untuk mengingat Allah dalam kesusahan. Jangan sampai kita lebih banyak mengingat hal lain atau orang lain daripada yang menciptakan diri kita sendiri.
- Orang yang hatinya hidup itu adalah orang yang bersabar ketika dia mendapatkan musibah dan bersyukur ketika mendapatkan nikmat. Terdengarnya sederhana dan simpel. Tapi terkadang manusia sering lupa. Ketika kenikmatan dunia mendekati, tak sempat bersyukur pada Illahi Rabbi. Ataupun ketika cobaan datang, yang muncul adalah putus asa dan kemarahan.
- Orang yang hatinya hidup akan menyadari bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan yang dia lakukan. Sehingg orang yang hatinya hidup tersebut akan selalu berhati-hati dalam setiap perbuatannya.
- Orang yang hatinya hidup adalah orang yang menyegerakan untuk melakukan perintah Allah. Ketika azan berkumandang, maka orang yang hatinya sehat akan otomatis meninggalkan dulu pekerjaannya dan menyegerakan untuk mendirikan sholat.
- Orang yang hatinya hidup adalah orang yang senang berkumpul dengan orang-orang sholeh. Dia akan merasa nyaman ditengah-tengah orang yang berbuat kebaikan. Karena sejatinya hati yang hidup itu akan semakin hidup ketika dipertemukan dengan hati-hati yang mencintai Illahi.
- Orang yang hatinya hidup itu senantiasa bersedekah. Seperti yang kita ketahui bersedakh itu bisa kita lakukan dengan banyak cara. "Senyummu untuk saudaramu adalah sedekah". Dengan bersedakah berarti kita bisa meringankan beban orang lain. Dalam suatu hadis, Rasulullah pernah berkata "Pahala membantu saudara yang mengalami kesusahan lebih tinggi dibandingkan dengan i'tikaf di msjid Nabawi sekalipun". Kalau disini saya juga mengartikannya bahwa, orang yang hatinya hidup itu adalah orang yang paling banyak bermanfaat bagi saudara-saudaranya. Luar biasa ya balasan dari Allah untuk orang-orang yang beriman.
- Ciri selanjutnya, yaitu rang yang hatinya hidup akan senantiasa menjaga ukhuwah islamiyah. Iman dan ukhuwah merupakan dua hal yang sejalan dan tidak bisa dipisahkan. Seseorang yang imannnya baik, maka akan senantiasa menjaga ukhuwah, begitupun sebaliknya. Kalau Troponin T dijadikan marker rusaknya jantung (infark), maka ukhuwah dapat pula dijadikan marker rusaknya iman.
- Orang yang hatinya hidup adalah orang yang harap dan takut. Takut kalau semua amalan yang dia kerjakan belum cukup dan tidak sempurna akan tetapi selalu harap akan diterimanya amalnya tersebut oleh Allah SWT. Sehingga dalam beribadah, ia akan mempersembahkan yang terbaik.
Sekianlah pembahasan mengenai hati yang hidup. Mungkin dari sini kita dapat mengintrospeksi diri kita, apakah hati yang kita miliki ini masih hidup????
Jikalau tidak, berusahalah untuk menghidupkannya kembali. Sehingga ia kembali diterangi nikmatnya cahaya illahi. Memang wajar keimanan itu naik dan turun, namun tak wajar bila ketika dia turun, tetapi kita tak berusaha untuk menaikkannya kembali..
Semangat saudaraku!!!
*Hati yang sakit akan dibahas pada sesi selanjutnya :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar