Rabu, 19 Oktober 2011

Temanku, Saudaraku


Aku dan Indah sudah berteman sejak kami duduk dibangku sekolah dasar. Indah temanku adalah anak yang periang, tegar, rajin beribadah dan selalu tersenyum. Aku banyak belajar darinya.
Kehidupan kami memang sangat berbeda, aku adalah anak yang bisa dibilang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Sementara temanku indah. . . .
Biasanya kalau pulang sekolah indah harus membantu orangtuanya mencari nafkah.
“Apa kalian pernah melihat anak-anak kecil membawa kaleng kosong dan bernyanyi dijalan raya ketika lampu merah?” Nah, itulah yang dilakukan temanku indah. Terkadang aku juga sering ikut mengamen bersamanya. Kita panas-panasan bersama, menyanyi bersama dan tertawa bersama.
Ketika mulai masuk SMP indah lah yang pertama kali mengajariku mengenakan kerudung. Dan ketika tanganku berdarah karena tertusuk jarum waktu mengenakan kerudung, dia ada disampingku untuk mengobati lukaku. Kenapa indah? Karena dari lahir aku tidak pernah melihat wajah ibuku. Kata ayah ibuku sangat cantik seperti aku... J
Masa SMP pun berlalu dan kami juga menjadi semakin dewasa untuk memandang dunia ini. Aku semakin menyadari bahwa aku sangat membutuhkan temanku indah. Banyak kenangan indah dan pahit yang telah kulalui bersamanya. Bagiku dia lebih dari sekedar teman, dia sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri.
Hal yang membuat hatiku luluh lantak adalah ketika aku harus melanjutkan pendidikan ke sebuah Universitas ternama, sementara saudaraku indah harus bekerja menggantikan ibunya yang sudah semakin tua. Aku semakin merasa sedih ketika aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk saudaraku itu. Aku tidak bisa memaksanya untuk tetap melanjutkan kuiahnya karena 3 adiknya yang masih kecil juga membutuhkan kehidupan...
Hari itu aku harus pergi untuk menggapai impianku, dengan bercucuran air mata ku peluk indah dengan kuat. Aku berjanji untuk menjadi orang yang sukses, dan berharap kelak biaa meringankan bebannnya. Kami berjanji untuk tetap saing berkomunikasi dengan berkirim surat. Indah menitipkan cita-citanya yang tak kunjung tercapai kepadaku. Kamipun semakin larut dalam keharuan perpisahan tersebut....
***
Hari ini adalah hari kelulusanku di perguruan tinggi. Aku merasa sangat bersyukur karena masa-masa perkuliahan kulalui dengan mudah dan 2 bulan sebelum wisuda aku sudah mendapat jaminan untuk bisa bekerja disebuah perusahaan besar. Dalam hati aku berjanji untuk memberikan gaji pertamaku untuk ayahku dan saudaraku indah. Aku belum memberi kabar gembira ini kepada indah, karena sudah dua bulan berlalu dia belum juga membalas suratku, tak biasanya hal ini terjadi. Aku merasa cemas tapi aku tetap berusaha berpikir positif bahwa itu terjadi karena dia memang sedang sibuk. Aku tetap menunggu balasan suratnya yang tak kunjung datang, , , ,
Acara wisuda hari ini berangsung dengan lancar, penuh dengan gelak tawa, rasa syukur dan tangis bahagia. Andai saja indah juga bisa merasakan hal yang sama. . . . . .
Setelah acara wisuda selesai ayah mengajakku pulang ke rumah. Aku sudah tidak sabar menceritakan apa yang sudah kuraih selama ini kepada indah. Sepanjang perjalanan aku berharap bisa berkumpullagi dengan saudaraku itu.
Setelah dua hari di perjalanan, aku dan ayah sampai dirumah. Dengan menghiraukan rasa lelahku diperjalanan, akupun langsung menuju rumah indah sambil membawa toga. Aku ingin melihat dia mengenakannya. . . .
Ketika sampai dirumahnya, yang membukakan pintu pertama kali buka indah tapi adiknya, Tia. Aku pun langsung menyampaikan tujuanku datang kesana dengan penuh semangat. Tapi kemudian Tia langsung memelukku dengan bercucuran air mata. Aku heran apa yang terjadi padanya. Perasaanku langsung berubah kacau dan cemas tak karuan. “Ada apa Tia? Apa yang sudah terjadi?”. Tia terbata-bata menjawab pertanyaanku sambil bercucuran air mata, “Mbak Indah udah diambi oleh Yang Maha Kuasa Mbak”. Mendengar hal tersebut tulangku rasanya remuk, tubuhku langsung lemas, akupun terduduk dan tak mampu lagi membendung air mataku higga membasahi kerudungku. “Tidak mungkin, kenapa tidak ada yang memberi tahuku “. Aku hanya mampu menangis. Bayangan indah semakin nyata dihadapanku, teringat kembali tentang kebaikan-kebaikannya, tawanya, candanya. . . . “Tuhan, aku tidak sanggup menghadapi kenyataan ini”.  Aku merasa sangat sedih dan terpukul. Dipenghujung usianya aku belum sempat membuatnya bahagia. . . Hatiku hancur, remuk. . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar